Karakteristik Masyarakat Islam | KABAR SAUNG MEI 2013

May 17, 2013 § Leave a comment

UPLOAD
by :

Dr. Ahzami Sami’un Jazuli

Al-Qur’an adalah kitabul hidayah, kitab petunjuk. Siapapun yang menjadikan Al-Qur’an dan Sunah sebagai pedoman, maka akan sukses baik di dunia maupun akhirat. Al-qur’an juga menjadi pedoman termasuk dalam hal bermasyarakat. Saat kita menghadapi berbagai macam pemasalahan di dunia ini, misal tinggal di negeri orang, masalah di bidang akademis (kuliah, sekolah, dsb), kebutuhan hidup yang semakin meningkat, dsb, maka jalan keluarnya telah tertera di dalam Al-Qur’an, termasuk juga dalam panduan tentang karakteristik masyarakat Islam.

1. Al-Qur’an sebagai petunjuk

a. Dalam Qs. Al-Isra: 9

“Sesungguhnya al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada yang lebih lurus.”

b. Diantara diturunkannya Al-Qur’an adalah untuk membentuk masyarakat muslim. Sirah nabawiah telah memberikan pelajaran, setelah tiga belas tahun berdakwah di Mekkah, nabi dan sahabat diperintahkan untuk berhijrah ke Madinah. Di kota Madinah inilah Nabi dan para sahabat kemudian membentuk masyarakat muslim. Saat tinggal di Mekkah, jumlah pengikut nabi hanya berkisar ratusan. Situasi pun tidak kondusif untuk melaksanakan ibadah. Tidak ada rasa aman bagi umat Islam dalam hidup bermasyarakat. Bahkan kesempitan seakan terus menerus menghimpit umat Islam saat tinggal di Mekkah. Ketika hijrah ke Madinah, penerimaan kaum anshar begitu baik. Dari sinilah kemudian nabi dan sahabat membentuk masyarakat muslim yang mampu memberikan rasa aman. Situasi yang dahulu sempit terasa luas. Janji Allah dalam Qs.An-Nisa: 100 terbukti adanya:

“Dan barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang luas dan (rezeki) yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh, pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang”

Al-Qur’an bukan hanya sekedar bahan bacaan. Ia juga untuk dipelajari dan yang terpenting adalah mengamalkan isi Al-Qur’an. Dengan mengamalkan isi Al-Qur’an, maka masyarakat yang Islami dapat terbentuk.

c. Urgensi pembentukan masyarakat Islami

– Menjaga serta memelihara individu dan juga keluarga-keluarganya. Misal: suami yang bekerja di luar kota dan hanya berkesempatan pulang seminggu sekali akan merasa aman meninggalkan istri dan keluarganya di tengah masyarakat yang Islami, yang memuliakan tetangga, jauh dari maksiat, dsb. Sebaliknya seorang istri dan anak-anak juga akan merasa tenteram ketika mengetahui bahwa kepala keluarga mereka bekerja dan berada di tengah masyarakat yang Islami.

– Pendidikan yang bersifat preventif. Rumah tangga yang berada di tengah masyarakat Islami akan senantiasa dijaga oleh Allah. Sebagai salah satu bentuk penjagaan diri dan keluarga dari api neraka, maka berada di tengah-tengah masyarakat yang Islami merupakan suatu cara yang “ampuh” agar terhindar dari api neraka. QS. At-Tahrim:6

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

– Mendapatkan keluarga yang damai, tenteram, serta akan melahirkan pemimpin-pemimpin terbaik. Salah satu tanda kebahagiaan adalah ketika melihat istri dan anak taat kepada Allah SWT.

2. Urgensi Masyarakat Islam

a. Al-Amnu (aman). QS. Al-An’am: 82:

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Tanda jika iman benar (merasa aman) karena selalu berhubungan dengan Allah. Hal ini terbukti dari diikutinya kata “Iimaanaa” (Iman) dengan “Al-Amnu” (Aman).

b. Wuduah (jelas).

Barangsiapa yang jatuh pada syubhat maka akan jatuh kepada yang haram. Dalam masyarakat Islam akan jelas yang halal dan yang haram.

3. Karakteristik/ Istimewanya masyarakat Islami

a. Masyarakat yang Islami adalah masyarakat yang berilmu

Ayat pertama yang turun adalah surat Al-Alaq 1-5. Disitu kata ilmu diulang sebanyak tiga kali.

–          Kata permohonan “tambahkanlah” hanya dipergunakan/ diikuti oleh kata Ilmu. Terdapat dalam QS. Thaha: 114

“Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.”

–          Allah memerintahkan kita untuk beramal dengan amal terbaik. Amal terbaik ini adalah amal yang benar dan disertai keikhlasan. Untuk mengetahui kebenaran dari amal maka tidak lepas dari memiliki ilmu tentangnya (amalan tersebut).

–          Ilmu itu sendiri adalah firman Allah SWT (Al-Qur’an) dan sabda Rasul (Sunnah).

b. Masyarakat yang Islami adalah masyarakat yang beramal.

Dalam QS At-Taubah: 5 disebutkan tentang etos kerja yang harus dimiliki masyarakat Islami:

 

“Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu’min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”

Amalan yang harus dikerjakan oleh masyarakat Islami:

a. Amal terbaik

b. Amal yang terus menerus, tidak musiman. Misal: banyak beramal tidak hanya dilakukan saat Ramadhan saja, alangkah sangat baik ketika terus-menerus dilakukan.

c. Amal yang benar-benar merealisasikan tujuan, bukan hanya pengguguran kewajiban semata. Misal: melakukan shalat tidak hanya untuk menggugurkan kewajiban tapi juga mampu mencegah perbuatan keji dan munkar (shalat sebagai tameng).

c. Masyarakat yang Islami adalah masyarakat yang bersaudara, meskipun berbeda  tempat tinggalnya, golongannya, partainya, madzabnya, rasnya. Masyarakat Islam adalah masyarakat yang satu.

Q & A

1. Key point untuk membentuk masyarakat Islami

– Mulai dari lingkungan keluarga, teman. Harus diamalkan, bukan sekedar wacana.

– Kesungguhan untuk membentuk, karena suatu yang besar dimulai dari yang kecil

– Evaluasi, monitoring hal-hal yang sudah dilakukan

2. Bagaimana agar Umat Islam yang terdiri dari jamaah-jamaah bisa bersatu?

– Kesatuan Orientasi -> Membangun kejayaan Islam

– Kesatuan Ideologis -> Syahadah

– Kesatuan Manhaj -> Al-Qur’an dan Sunnah

– Toleransi dan menghargai perbedaan, seperti yang telah dilakukan oleh para shalafus shalih

3. Batasan mengambil sumber dari buku ataupun internet

– Referensi benar (terdiri dari Al-Qur’an dan Sunnah)

– Metode benar (Tafsiran)

– sumber tulisan berkomitmen untuk menyatukan umat, bukan malah mencerai-beraikan

– sumber tulisan tidak terburu-buru memvonis saudara lainnya

4. Bagaimana dengan minoritas yang berada di tengah masyarakat yang tidak Islami?

– Mengimani dan meyakini bahwa bumi ini buminya Allah

– Saksi sejarah telah membuktikan bahwa masyarakat Islami terbentuk dari minoritas

– Akan tetapi ketika kita sebagai minoritas maka harus memperhatikan sisi keamanan

– Tunjukkan keindahan Islam. Posisikan diri kita sebagai duta Islam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Karakteristik Masyarakat Islam | KABAR SAUNG MEI 2013 at IMAS - Indonesian Muslim Association in Singapore.

meta

%d bloggers like this: